Selasa, 12 Juli 2011

PEMBELAJARAN ANEKA TEKNIK MEMBACA PADA SISWA SMK

A.    Pendahuluan
Salah satu bidang garapan pembelajaran bahasa sejak tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan adalah keterampilan membaca yang didasari oleh kemampuan membaca. Mampu membaca tidak berarti secara otomatis terampil membaca. Akan tetapi, terampil membaca tidak mungkin tercapai tanpa memiliki kemampuan membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini, siswa juga akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar utama tidak saja bagi pembelajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga bagi mata pelajaran lain. Dengan membaca, siswa akan memperoleh pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya.
Membaca bagi bangsa sebenarnya merupakan kebutuhan mendasar seperti kebutuhan manusia akan makan, pakaian, dan sebagainya. Akan tatapi, sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar. Padahal, membaca sangat perlu. Dengan membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan. Membaca ibarat membuka “jendela dunia”. Dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif.
Mengingat pentingnya peranan membaca bagi perkembangan siswa, maka guru perlu memacu siswanya untuk membaca dengan benar dan selektif. Secanggih atau sebaik apapun suatu metode membaca tidak akan berhasil dan hasilnya pun tidak sesuai dengan harapan jika guru tidak mampu melaksanakannya. Oleh karena itu, peranan guru sangat mendukung keberhasilan siswanya.
B.     Manfaat Memiliki Minat Baca
Minat dan kebiasaan membaca perlu dikembangkan secara terprogram dan terencana. Anak memiliki berbagai potensi yang dapat dan perlu dikembangkan, terutama potensi “ingin tahu”. Anak memang serba ingin tahu, hal ini perlu disalurkan secara positif. Rasa ingin tahu anak dapat dikembangkan melalui buku (Tarigan, 2005: 2). Untuk menjadikan anak menyenangi buku perlu dimulai dan dipupuk sejak dini, sejak TK atau masuk SD. Kondisi anak didik saat ini umumnya kurang menyenangi buku, minat baca tidak menonjol, dan mereka lebih suka menonton televisi. Membaca dilakukan terbatas pada buku-buku pelajaran pokok yang digunakan di sekolah. Itu pun bagaikan terpaksa, karena akan diadakan ulangan, atau karena guru memberi pekerjaan rumah. Ketekunan membaca hanya dimiliki beberapa orang anak saja di sekolah. Akibatnya pengetahuan anak sangat terbatas, penguasaan bahasa menjadi lambat bahkan kemampuan menangkap isi bacaan juga rendah. Ini harus dijadikan suatu tanda dan peringatan bagi guru dan orang tua, bahwa “minat baca” anak harus dipupuk, dikembangkan (Tarigan, 2005: 13-18).
Apabila minat baca “tinggi” guru akan lebih mudah dan ringan dalam melaksanakan tugasnya. Anak-anak akan lebih aktif, mencari dan menggali pengetahuan. Anak akan mengisi sendiri wadah rasa “ingin tahunya”. Suasana kelas akan lebih hidup, anak belajar aktif di kelas dan belajar akan lebih mempunyai makna. Menurut seorang ahli, “Katakanlah kepada saya apa bacaan anda, saya akan segera dapat menilai sikap anda”. Ungkapan itu bermakna bahwa pribadi seseorang dapat dikenal melalui bacaannya karena bahan bacaan dapat membentuk kepribadian. Oleh karena itu perlu mengajari anak untuk selektif dalam memilih bacaannya.
Dalam memasuki era globalisasi pada saat ini, peran membaca sangat penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan membaca diperlukan untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan di bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Derasnya arus informasi dan komunikasi dewasa ini menyebabkan apa yang kita ketahui hari ini, tentang kemarin, mungkin tadi pagi atau tadi malam telah berubah.
Pengembangan minat baca ini perlu ditingkatkan secara berkesinambungan agar terbentuk masyarakat yang berbudaya membaca. Khususnya di negara ini, cara yang efektif populer untuk memperoleh informasi adalah melalui bacaan. Oleh karena itu, sejak dini masyarakat perlu dimotivasi agar senang dan biasa membaca. Para guru harus mempunyai kemampuan dan kemauan untuk membaca sehingga dalam melaksanakan proses pembelajaran guru tidak hanya mengandalkan ilmu yang pernah dipelajarinya sebelum menjadi guru. Apabila guru menganggap bahwa ilmu yang dimilikinya sudah memadai dan tidak mengikuti perekembangan ilmu itu, maka dapat menimbulkan konflik antara guru dengan anak didik, karena materi yang diajarkan kepada anak didik mungkin sudah “basi”. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila guru senantiasa mengikuti perkembangan zaman dengan membaca.
Sebenarnya tujuan dari pengembangan minat baca ini antara lain untuk:
1.   mendorong minat dan kebiasaan membaca agar tercipta masyarakat yang berbudaya membaca;
2.   meningkatkan layanan perpustakaan;
3. menciptakan masyarakat informasi yang siap berperan serta dalam semua aspek pembangunan;
4.   memiliki pengetahuan yang terkini, bukan yang sudah “basi”;
5.   meningkatkan kemampuan berpikir; dan
6.   mengisi waktu luang.
Minat baca dapat ditumbuhkan dan dikembangkan, sehingga menjadi kebiasaan melalui penguasaan teknik membaca yang tepat. Teknik membaca yang tepat dapat membuat membaca lebih efisien, efektif, serta menarik.
C.    Teknik-teknik Membaca dan Langkah-langkahnya
Berdasarkan tngkatannya, teknik membaca dapat diklasifikasikan menjadi dua tingkat, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjutan. Membaca permulaan bertujuan memberikan kemampuan dasar untuk membaca, yaitu mengenal/ mengetahui huruf dan terampil mengubah huruf menjadi suara. Teknik ini dipelajari siswa sekolah dasar kelas rendah. Membaca lanjutan ialah membaca untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat, dan lengkap.
Teknik membaca yang akan dibahas dalam tulisan ini bukan lagi tentang teknik membaca permulaan, tapi akan dibahas tentang teknik membaca lanjutan. Pada sekolah menengah kejuruan, teknik ini sudah harus dipelajari sejak kelas sepuluh.
Berikut ini akan dibahas enam teknik membaca lanjutan yang perlu diketahui guru, yang berguna untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca.
1.      Membaca Teknis (Membaca Bersuara)
Membaca teknis menekankan pada segi “menyuarakan yang dibaca“. Contoh membaca teknik ialah membacakan berita di televisi atau radio, membacakan puisi atau membacakan pidato. Proporsi pembelajaran membaca teknis lebih besar dilakukan pada sekolah dasar. Di sekolah menengah kejuruan (SMK), kegiatan membaca teknis ini lebih ditujukan untuk memelihara dan melatih kemampuan membaca. Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memuat kompetensi dasar mengucapkan kalimat dengan jelas, lancar, bernalar, dan wajar.
Dalam membaca teknis, yang perlu diperhatikan adalah pelafalan vokal maupun konsonan, nada/lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca, pengelompokan kata/frase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata, dan ekspresi.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pelaksanaan membaca teknis adalah sebagai berikut:
a.     Siswa diberi waktu ± 5 menit untuk membaca bacaan yang disajikan dengan caranya sendiri. Tujuan kegiatan ini agar siswa mempunyai gambaran umum tentang bacaan yang akan dibaca dan mempersiapkan cara mengucapkan kata-kata tertentu atau menentukan pemenggalan kalimat.
b.     Siswa diberi kesempatan menanyakan kata-kata yang dianggap baru atau sulit, yang belum diketahui maknanya supaya siswa terbantu dalam menghayati maksud bacaan. Ada dua kemungkinan jika siswa tidak mengerti arti/makna kata, yaitu: 1) belum mengenal kata-kata yang dimaksud, dan 2) tidak mengenal konsep/makna sebuah kata. Jika siswa tidak mengenal/tidak mengerti kata-kata yang dimaksud, guru menjelaskan dengan mengganti kata lain yang sama artinya. Tetapi jika disebabkan oleh kemungkinan yang kedua, guru diharapkan menunjukkan benda, gambar, atau memperagakan dengan perbuatan.  
c.     Melakukan tanya jawab dan guru menjelaskan struktur kalimat yang dianggap baru atau sulit, termasuk cara memenggal dan mengucapkan kalimat.
d.    Guru memberikan contoh membaca yang baik dengan menonjolkan lafal kata, pemenggalan, lagu kalimat, dan ekspresi. Contoh ini dapat pula dilaksanakan dengan jalan menunjuk dua atau tiga orang siswa yang dianggap cakap dalam membaca. Guru hendaknya memberikan penjelasan tentang:
1)  perkataan mana yang penting dan harus dibaca dengan tekanan.
2)  berhenti dan bernafas pada tempatnya.
3)  tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
e.   Mengadakan tanya jawab ringan tentang isi wacana, berurutan dari paragraf pertama sampai dengan terakhir. Cara ini bermanfaat untuk menolong siswa dalam memahami maksud wacana yang disajikan, sebelum siswa mendapat giliran membaca.
f.     Setelah itu, guru memberikan giliran membaca kepada beberapa siswa, sambil memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa.
Pembelajaran membaca teknis merupakan bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia dalam keterampilan membaca. Oleh karena itu, tidak dibenarkan menggunakan satu pertemuan hanya untuk membaca teknis. Untuk mengindari kebosanan setelah memberikan giliran kepada sekitar 5 atau 6 orang siswa, di lanjutkan dengan keterampilan bahasa yang lain, misalnya keterampilan berbicara atau keterampilan menulis, dengan menuliskan kesimpulan bacaan tersebut.
2.      Membaca Dalam Hati.
Membaca dalam hati ialah cara atau teknik membaca tanpa suara. Jenis membaca ini perlu lebih ditekankan kepada pemahaman isi bacaan. Beberapa kompetensi dasar dalam Standar Isi KTSP SMK merupakan teknik membaca dalam hati. Di antaranya: 1) Memahami informasi tertulis dalam berbagai bentuk teks dan 2) Memahami perintah kerja tertulis (Permendiknas, 2006).
Membaca dalam hati berbeda dengan membaca teknis. Membaca teknis lebih banyak menggunakan gerakan mulut, sedangkan membaca dalam hati lebih banyak menggunakan kecepatan gerak mata. Mengingat gerakan mata lebih cepat menanggapi apa yang dibaca, maka membaca dalam hati lebih cepat prosesnya daripada membaca teknis. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menggunakan membaca dalam hati dalam kegiatan membaca. Jangan biarkan siswa membaca menggunakan ujung jari atau mulut yang berkomat-kamit, karena kegiatan ini akan menghambat kecepatan siswa dalam membaca.
Tujuan membaca dalam hati ialah melatih kemampuan siswa dalam memahami isi wacana/bacaan. Membaca dalam hati cocok untuk keperluan studi dan menambah ilmu pengetahuan/informasi. Setelah siswa membaca, diberi tugas untuk menjawab pertanyaan, bacaan ditutup. Pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran (Depdikbud, 1993: 21). Guru hendaknya tidak hanya memberi pertanyaan ingatan, atau sebaliknya hanya memberi pertanyaan pikiran saja. Pertanyaan ingatan menanyakan tentang isi bacaan, sedangkan pertanyaan pikiran untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami/menanggapi seluruh isi bacaan. Pada saat awal siswa dikenalkan dengan membaca dalam hati, pertanyaan yang diberikan berupa pertanyaan ingatan. Makin meningkat kelasnya, pertanyaan pikiran harus mendapat perhatian guru, sebab dengan cara ini akan lebih mendorong siswa untuk giat membaca.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan membaca dalam hati adalah sebagai berikut:
a.       Guru menerangkan kata-kata yang diperkirakan sulit atau baru bagi siswa. Sebagai variasi dan menghindarkan ketergantungan siswa terhadap penjelasan guru, dapat ditempuh dengan jalan memberikan daftar kata-kata sulit atau kata-kata baru dan siswa dilatih menggunakan kamus untuk mencari kata-kata tersebut.
b.      Guru memberi waktu ± 15 menit untuk membaca dalam hati suatu bacaan yang disajikan, sebaiknya bacaan yang berisi masalah baru. Waktu yang disediakan bergantung pada panjang pendeknya bacaan tersebut.
c.       Setelah waktu yang ditentukan habis, siswa disuruh untuk menutup bacaan yang sudah dibaca, untuk menghindarkan siswa membaca kembali bacaan tersebut pada waktu ia menjawab pertanyaan bacaan.
d.      Guru memberikan pertanyaan mengenai bacaan, baik pertanyaan ingatan maupun pertanyaan pikiran. Jawaban dapat disampaikan secara lisan untuk melatih keberanian siswa berbicara. Dapat pula secara tertulis untuk melatih kecermatan siswa dalam menulis.
e.       Dalam praktik sehari-hari setelah langkah-langkah di atas dilakukan, biasanya dilanjutkan dengan membaca teknis atau membaca bahasa.
Kebiasaan buruk yang tidak boleh dilakukan pada saat membaca dalam hati adalah: 1) membaca dengan suara berbisik/bergumam, 2) bibir bergerak-gerak (komat-kamit), 3) kepala bergerak ke kiri dan kanan mengikuti baris-baris bacaan, dan 4) menunjuk dengan jari, pensil, atau alat lain (Depdikbud, 1993: 22).
3.   Membaca Cepat
Membaca cepat adalah teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk memperoleh informasi secara umum atau informasi yang diperlukan saja dari suatu bacaan. Tujuan yang hendak dicapai melalui membaca cepat ialah melatih kecepatan gerakan mata para siswa pada saat membaca. Membaca cepat perlu dipelajari siswa, karena pada saatnya kelak siswa harus dapat membaca suatu pengumuman, pemberitahuan, berita, dan tulisan-tulisan lain dalam waktu yang cepat. Dalam kehidupan sehari-hari, membaca cepat sangat dibutuhkan karena pada abad informasi ini kita dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang sangat banyak jumlahnya dan tentunya kita tidak ingin tertinggal informasi.
Dalam Standar Isi KTSP SMK terdapat standar kompetensi membaca cepat untuk memahami informasi tertulis dalam konteks bermasyarakat. Pada tahap permulaan mengenalkan membaca cepat pada siswa, bahan bacaan hendaknya yang bersifat umum bagi siswa supaya tidak terhambat oleh istilah yang belum dikenal. Latihan perlu terus dilakukan karena tanpa latihan yang intensif dan berkesinambungan tidak mungkin tercapai kecepatan membaca yang diharapkan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan membaca cepat adalah sebagai berikut:
a.       Untuk menghindari pemusatan perhatian dan melangkah mundur (mengulang bagian yang sudah dibaca sebelumnya), guru membicarakan bagian yang diperkirakan sulit.
b.      Siswa diberi kesempatan membaca suatu bacaan dengan cepat dalam waktu telah ditentukan dengan aba-aba guru pada waktu memulai dan mengakhirinya. Kemudian memberikan siswa batas mengenai bahan yang sudah dibaca dan menghitung jumlah kata yang telah dibacanya.
c.       Siswa diberi tugas menyebutkan/menuliskan bagian bacaan yang penting, mungkin berupa kata kunci, kalimat, atau paragraf.
d.      Pada bagian akhir membaca cepat, guru memberikan tes untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat menangkap isi bacaan yang telah dibacanya. Kalau seorang siswa dapat membaca cepat namun tidak memahami isi bacaan tersebut, maka tujuan membaca cepat tidak tercapai.
Kecepatan rata-rata membaca adalah banyaknya kata yang dapat dibaca dalam setiap menit. Untuk mengetahui kecepatan rata-rata membaca siswa hitunglah dengan rumus:
=       kata permenit (kpm)
 
   Jumlah kata yang dibaca    .
Jumlah detik waktu membaca
Penguasaan kecepatan rata-rata membaca tersebut belum mengambarkan keterampilan membaca siswa karena belum menggambarkan besarnya pemahaman isi bacaan. Untuk mengetahui kecepatan membaca sekaligus besarnya pemahaman terhadap isi bacaan, perlu dihitung kecepatan efektif membaca. Rumus yang digunakan untuk menghitung kecepatan efektif membaca adalah:
x 60 = kata / menit  x % pemahaman  =        kpm
 
Jumlah kata yang dibaca
    Waktu tempuh baca
Contoh :
Siswa yang berhasil membaca ± 600 kata dalam tempo 2 menit dan berhasil menjawab 3 buah pertanyaan bacaan dengan benar dari 5 soal yang tersedia, artinya kecepatan efektif siswa tersebut = 300 kata x 60% = 180 kata per menit (Harjasujana, 1992: 142-143)
4.    Membaca Bahasa.
Pada Standar Isi KTSP SMK terdapat kompetensi dasar membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja (Permendiknas, 2006). Teknik membaca jenis ini dapat digolong dalam membaca bahasa. Tujuan yang hendak dicapai dengan membaca bahasa ialah untuk menambah keterampilan siswa dalam menggunakan makna bahasa, makna kalimat/kata yang digunakan dalam konteks kalimat tertentu, penggunaan suatu kata dalam konteks yang berbeda-beda, ketepatan penggunaan imbuhan, tanda baca, dan susunan kata/kalimat.
Dalam kegiatan membaca bahasa, guru perlu menanyakan:
a.       arti kata yang digunakan dalam pelajaran dan penggunaan kata tersebut dalam kalimat lain;
b.      tepat atau tidaknya pemakaian kata dalam situasi yang digambarkan dalam suatu pelajaran;
c.       penggunaan awalan, akhiran, dan sisipan;
d.      penggunaan tanda baca seperti koma, tanda seru, tanda tanya, titik dua, dan sebagainya.
e.       Penyusunan kata/kalimat baru yang lain
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membaca bahasa adalah sebagai berikut:
a.       Para siswa diberi kesempatan membaca dalam hati ± 5 menit. Kesempatan ini boleh diberikan lebih dari satu kali.
b.      Guru bertanya tentang kata, ungkapan, atau kalimat yang dianggap baru oleh siswa. Sebenarnya langkah ini hanya untuk mencocokkan apakah hal yang dianggap baru oleh siswa dan hal yang diperkirakan baru oleh guru itu sama.
c.       Pembahasan kata, ungkapan atau struktur kalimat disesuaikan dengan indikator yang akan dicapai.
d.      Latihan-latihan bahasa dikaitkan dengan hal yang dibahas. Latihan ini dapat berupa penggunaan kata atau ungkapan dalam kalimat, dapat berupa latihan membuat kalimat dengan struktur baru menggunakan kata yang dibahas tersebut (Depdikbud, 1993: 25-26).
5.   Membaca Indah (Estetis)
Pokok masalah dalam membaca indah ialah cara membaca yang menggambarkan penghayatan keindahan dan keharuan yang terdapat pada bacaan. Dengan membaca indah siswa digugah rasa estetiknya, untuk terus diasah. Pembelajaran membaca indah pada pembelajaran membaca di SMK dikaitkan dengan apresiasi sastra, misalnya membaca puisi atau dialog drama.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam membaca indah adalah sbagai berikut:
a.       Siswa diberi tugas membaca dalam hati suatu bacaan; untuk dapat memahami isi bacaan dan siswa menghayati isi bacaan dan memiliki persiapan pengungkapan diri pada waktu membaca bersuara.
b.      Pertanyaan ringan diajukan untuk mengetahui atau menyeragamkan pemahaman siswa terhadap bacaan yang disajikan.
c.       Bersama siswa dibahas kesukaran bahasa yang ada agar tidak mengganggu pemahaman.
d.      Guru memberikan contoh membaca yang baik, siswa ditugaskan menandai bacaan/wacana yang perlu dibaca dengan suara lemah, kuat, atau cepat dan lambat.
e.       Siswa diberi kesempatan untuk membaca bacaan tersebut dengan ekspresi yang tepat.
6.   Membaca Bebas (Perpustakaan)
Tujuan membaca bebas ini ialah untuk menumbuhkan kegemaran membaca dan menambah pengetahuan. Di samping itu, membaca juga merupakan rekreasi. Latihan membaca bebas pada hakekatnya bertujuan untuk menanamkan kebiasaan membaca (Depdikbud, 1993: 23) Dengan membaca bebas ini siswa dimotivasi untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca. Guru/pustakawan dapat mengontrol membaca bebas ini dengan menugaskan siswa menuliskan laporan dari buku yang telah dibaca, misalnya dengan menuliskan ringkasan isi atau pesan dari buku tersebut, kesimpulan dari bacaan tersebut, dan sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan membaca bebas (Perpustakaan) ialah sebagai berikut:
a.       Apabila di dalam kelas para siswa telah menyelesaikan tugas mata pelajaran tertentu, sedangkan waktu masih ada, hendaknya siswa dianjurkan untuk memanfaatkan perpustakaan kelas/sekolah.
b.      Siswa disuruh memilih buku yang disukai agar mereka gemar membaca.
c.       Guru hendaknya ikut membaca bacaan yang dibaca siswa meskipun hanya garis besarnya saja. Hal ini perlu karena guru dapat mengetahui isi bacaan tersebut. Jika ada buku yang tidak pantas dibaca para siswa maka buku tersebut dikeluarkan dari perpustakaan kelas/sekolah.
d.      Guru hendaknya selalu menanyakan isi buku yang dibaca siswa. Misalnya tentang tokoh cerita, alur cerita, atau hal-hal yang menarik bagi siswa. Dengan demikian guru dapat mengendalikan apa yang dibaca siswa dan pemanfaatan waktu luang tetap terjamin.
e.       Siswa disuruh menceritakan kembali isi buku yang dibaca, baik di depan kelas untuk menumbuhkan keberanian berbicara, atau membuat rangkuman secara teratur untuk memupuk kemampuan menulis.

D.    Cara Penilaian Membaca
Salah satu kegiatan yang ikut menentukan keberhasilan pembelajaran ialah penilaian, baik yang menyangkut penilaian program, kegiatan, dan hasil proses pebelajaran. Lingkup kegiatan ini amat luas. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perhatian dipusatkan pada penilaian terhadap kemajuan anak dalam pembelajaran, terutama penilaian pelajaran membaca.
Berikut ini disajikan aspek-aspek yang harus dinilai pada masig-masing teknik membaca.

Tabel Aspek-Aspek yang Dinilai pada Pembelajaran Teknik Membaca
No
Jenis Teknik Membaca
Aspek yang Dinilai
1
Membaca teknis
a.       Ketepatan ucapan atau lafal.
b.      Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat.
c.       Kewajaran nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
d.      Kelancaran siswa dalam membaca
2
Membaca dalam hati
a.       Kemampuan siswa menangkap isi wacana, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
b.      Kemampuan menceritakan kembali isi wacana dengan bahasanya sendiri/kata-kata sendiri.
c.       Kemampuan menemuan pikiran pokok setiap paragraf.
d.      Kemampuan menemukan ide atau pengertian pokok wacana.
e.       Kemampuan menjawab pertanyaan dengan lengkap.
f.       Kemampuan mengatasi kebiasaan tidak efisien atau cacat dalam membaca.
3
Membaca cepat
Kecepatan efektif membaca
4
Membaca bahasa
a.       Ketepatan pemakaian kata (kosakata), struktur kalimat, dan penyusunan paragraf.
b.      Pemakaian ejaan yang benar.
c.       Pemakaian tanda baca yang tepat

5
Membaca indah
a.       Pemahaman terhadap wacana.
b.      Ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, lagu kalimat.
c.       Kuat dan lemah, keras atau lambat suara (termasuk volume).
d.      Penghayatan dan penjiwaan terhadap wacana yang dibaca.
e.       Penampilan atau ekspresi pada waktu membaca.
6
Membaca bebas
hasil laporan bacaan, rangkuman isi wacana,hasil diskusi kelompok mengenai buku atau wacana yang dibaca, dan sebagainya.


Dalam setiap jenis membaca, guru hendaknya telah mempunyai skala penilaian berdasarkan materi yang akan dinilai. Hal ini untuk memperkecil perasaan guru ikut dalam menilai, misalnya rasa suka / tidak suka sehingga menimbulkan kesan pilih kasih. Sebagai contoh, skala penilaian dalam menilai membaca teknis:
No
Aspek yang Dinilai
Skor Maksimal
1
Ketepatan ucapan atau lafal
3
2
Ketepatan nada, irama, lagu, dan intonasi kalimat
3
3
Kewajaran nada irama, lagu, dan intonasi kalimat sebagai pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari
4

Jumlah skor
10

Jadi, kalau siswa A dapat membaca teknis dengan baik dan mulus sesuai kriteria penilaian maka ia akan mendapat maksimal 10.
Perlu diperhatikan bahwa guru harus melihat tujuan dari tiap jenis membaca lalu membuat skala penilaiannya.
E.     Upaya Meningkatkan Minat Baca
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini, dan tidak dapat disangsikan pula bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk memupuk minat dan kebiasaan membaca bagi anak-anak. Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal. Oleh karena itu, upaya pengembangan/peningkatan minat dan kebiasaan membaca juga diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca antara lain:
1.      penyelenggaraan jam-jam baca di perpustakaan sekolah;
2.      pemberian tugas membaca;
3.      pemotivasian penyelenggaraan majalah dinding;
4.      penyelenggaraan lomba pembuatan kliping;
5.      penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan peringatan harihari besar nasional dan agama; dan
6.      penugasan siswa membantu pustakawan di perpustakaan sekolah.
Dari semua kegiatan yang dilaksanakan di atas, tidak akan ada artinya kalau tidak didukung oleh para guru. Guru mempunyai peranan penting untuk meningkatkan minat baca siswa-siswanya. Jika guru salah atau kurang tepat dalam menggunakan metode pembelajaran maka akan membuat siswa malas membaca, tidak memberikan motivasi (dorongan) pada anak didik untuk gemar membaca. Guru yang tidak memberikan kesempatan atau tidak menciptakan suasana diskusi di dalam kelas, akan mematikan minat anak didik untuk ingin tahu atau mencari sesuatu jawaban. Guru yang mengajar dengan metode ceramah saja atau yang lebih buruk lagi dengan menyalin saja (baik di papan tulis atau didiktekan), akan
menjadikan kelas itu kelas yang pasif, kelas yang siswa-siswanya selalu menunggu apa yang akan diberikan oleh gurunya.
Seharusnya seorang guru harus menciptakan kelas yang interaktif, kelas yang siswa-siswanya selalu mencari jawaban dan memecahkan masalah. Sebagai contoh kegiatan guru untuk mengajak siswanya berminat untuk membaca dilakukan kegiatan sebagai berikut:
Guru yang bijak akan mulai suatu langkah, mencoba melangkah tapi penuh kepastian. Dipilihnya buku-buku dari perpustakaan sebanyak jumlah siswanya di kelas. Seawal mungkin, ketika anak mulai duduk di bangku kelas I anak diberi buku. “Mengapa ? Bukankah anak belum bisa membaca ? “. Memang benar, tapi guru yang bijak tadi bukan menyuruh anak membaca buku-buku itu. Guru ingin merangsang siswanya dengan berusaha agar siswa sadar, mulai “cinta buku”. Misalnya dengan menanyakan gambar-gambar yang terdapat dalam buku, pada kesempatan lain guru bercerita singkat tentang isi suatu buku yang menarik siswa. Cerita disajikan dengan maksud untuk menumbuhkan dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang isi buku. Maksudnya agar siswa terdorong dan memiliki motivasi. “Apabila kamu sudah pandai membaca, banyak cerita-cerita menarik yang dapat diperoleh dalam buku-buku semacam ini.” Kelihatannya sangat sederhana, akan tetapi hal ini dapat mendorong/memberikan motivasi pada siswa untuk cepat belajar membaca.
Saat ini keberadaan perpustakaan kelas sangat diperhatikan oleh para pengelola sekolah, sekali lagi tingal peran guru yang sangat diperlukan dalam memotivasi siswa untuk membaca. Mengisi waktu luang anak didik dalam kelas. Bila anak sudah memiliki kemampuan membaca, maka kemampuan guru yang bijak tadi mencoba berkreasi. Anak didiknya dianjurkan mengumpulkan atau membuat kliping, misalnya dari surat kabar, mingguan, atau majalah yang memuat bacaan atau cerita untuk anak. Kliping yang terhimpun dibuat bermakna bagi proses belajar siswa.
Tentunya masih banyak cara lain untuk membangkitkan minat siswa dalam membaca. Dan jangan lupa seleksilah buku-buku yang dibaca siswa-siswi/anak-anak kita supaya sesuai dengan perkembangan bahasa anak.
F.     Kesimpulan
Kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi pengembangan kemampuan lain yang lebih tinggi. Karena itu pembelajaran membaca di sekolah dasar harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan sehingga memberi manfaat bagi siswa dalam pengembangan kemampuan dan keterampilan lain. Kesabaran dan ketelatenan guru dalam membimbing, mengarahkan, dan melatih siswa sangat berperan dalam mendorong siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Begitu pula guru pustakawan dapat membantu meningkatkan minat baca siswa dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1.      Menyediakan buku yang sesuai dengan usia siswa.
2.      Mengorganisasikan lomba minat baca di sekolah.
3.      Memilih siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak.
4.      Menceritakan orang-orang yang sukses sebagai hasil membaca.
5.      Mengajak siswa belajar ke perpustakaan.
6.      Mengajak guru untuk mengajar teknik-teknik membaca kepada siswa.
7.      Memotivasi siswa agar banyak membaca pada waktu terluang.
Dengan diketahuinya teknik-teknik membaca, langkah-langkah pelaksanaan, dan upaya untuk meningkatkan minat baca, maka diharapkan guru dapat mengambil perannya sebagai pendidik yang mendorong siswanya untuk gemar membaca.

Daftar Pustaka
Asnawi, Fuad . 2005. Upaya Peningkatan Keterampilan Membaca Pemahaman Melalui Penerapan Teknik Skema. Jurnal online. http://pakguruonline.pendidikan .net.  Diakses pada tanggal 10 Mei 2009.
Depdikbud. (1993). Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis. Jakarta: Balai Pustaka.
-----------. 2004a. Modul Bahasa Indonesia SMK Kurikulum 2004. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
Harjasujana, Ahmad S. 1992. Membaca. Jakarta: Universitas Terbuka.
-------------- . 1993. Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, dan Pedoman Pelaksanaan. 2006. Jakarta: Dihimpun oleh Sinar Grafika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar